Elsa
Perjalanan Spiritual Usia 40 dalam Menentukan Jalan Hidup
Usia 40 datang bukan hanya sebagai angka. Ia hadir seperti sebuah cermin besar yang memaksa aku berhenti sejenak, menatap ke dalam diri, dan bertanya: ke mana sebenarnya aku sedang berjalan?
Selama bertahun-tahun, hidupku berjalan dalam ritme yang sangat terstruktur. Target, rencana, evaluasi, dan pencapaian. Semua terasa logis, rasional, dan aman. Namun di balik semua itu, ada ruang sunyi yang mulai sering memanggil. Ruang yang mengajakku merenung tentang makna hidup, tentang warisan yang ingin kutinggalkan, dan tentang sejauh mana langkahku benar-benar selaras dengan ridho Allah.
Aku mulai lebih banyak diam. Lebih banyak membaca. Lebih banyak berdoa.
Bukan lagi meminta kemudahan, tetapi meminta petunjuk. Pada titik itu, aku memahami bahwa hidup bukan hanya tentang keberhasilan dunia, tetapi tentang keberkahan perjalanan.
Perjuangan dalam Memutuskan (Versi Emosional & Dramatis)
Keputusan besar tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa percakapan-percakapan panjang, air mata yang ditahan, dan doa yang berulang di sepertiga malam.
Ketika pertama kali aku menyampaikan keinginanku untuk benar-benar fokus membangun usaha, pertanyaan yang datang dari pasangan hidupku bukanlah penolakan. Ia datang dalam bentuk kekhawatiran yang sangat logis dan penuh cinta.
“Apakah ini sudah dipikirkan matang?
Bagaimana kalau usahanya tidak berjalan?
Bagaimana dengan pendidikan anak-anak?
Apakah kita siap menyesuaikan gaya hidup?”
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah diucapkan dengan suara tinggi. Justru diucapkan dengan tenang. Namun ketenangan itu membuat hatiku semakin bergetar. Karena aku tahu, di baliknya ada tanggung jawab besar yang selama ini kami jaga bersama.
Kami berdiskusi berhari-hari. Kadang sampai larut malam. Kadang di sela aktivitas harian. Kadang dalam diam yang panjang. Ada momen ketika ia membujukku untuk bertahan. “Tidak semua orang mendapat posisi yang sudah stabil seperti ini. Mungkin ini hanya fase lelah. Mungkin kamu hanya butuh istirahat.”
Aku mengerti. Aku sangat mengerti. Karena selama 22 tahun, aku juga berpikir seperti itu. Namun ada suara lain yang terus memanggil. Suara yang tidak bisa lagi diabaikan.
Suara yang berkata bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang bertumbuh. Ketika aku menyampaikan hal ini kepada ibundaku, pergumulan itu menjadi lebih berat. Beliau tidak marah. Beliau tidak melarang. Namun matanya berbicara banyak.
“Apa semua perjuangan selama ini akan sia-sia?”
“Bukankah kamu sudah sampai di titik yang banyak orang impikan?”
“Ibu dulu berjuang agar kamu tidak mengalami hidup yang sulit.”
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat dalam. Aku melihat perjalanan panjangnya membesarkanku. Aku melihat doa-doanya yang tidak pernah putus. Aku melihat harapannya agar aku hidup aman dan stabil. Di saat itulah hatiku benar-benar diuji.
Apakah aku egois?
Apakah ini hanya keinginan sesaat?
Apakah aku sedang mengambil risiko yang tidak perlu?
Malam-malam berikutnya menjadi saksi pergumulanku. Aku membayangkan penghasilan yang harus disesuaikan. Aku membayangkan biaya pendidikan anak-anak yang terus meningkat. Aku membayangkan kemungkinan terburuk. Ada rasa takut yang sangat nyata. Takut gagal. Takut mengecewakan. Takut tidak mampu menjaga keluarga.
Namun di tengah semua ketakutan itu, ada satu hal yang tetap hidup yakni keyakinan. Keyakinan bahwa Allah tidak menanamkan keinginan tanpa jalan. Keyakinan bahwa setiap langkah yang diambil dengan niat baik tidak akan pernah sia-sia.
Pergumulan itu seperti tarik menarik yang melelahkan. Antara logika dan hati. Antara keamanan dan panggilan. Antara rasa takut dan keberanian. Sampai akhirnya aku bertanya pada diriku sendiri dengan jujur, “Jika aku diberi kesempatan hidup sekali lagi, apakah aku akan tetap memilih jalan yang sama?”
Dan jawabannya datang dengan sangat jelas yakni “Tidak”. Aku ingin hidup dengan penuh makna. Aku ingin melakukan sesuatu yang membuatku rela bangun pagi dengan semangat, bahkan ketika tantangan datang bertubi-tubi. Aku ingin pekerjaan yang membuatku siap bekerja 24 jam, bukan karena terpaksa, tetapi karena cinta.
Di situlah aku memahami bahwa keputusan ini bukan tentang meninggalkan masa lalu.
Ini tentang menghormati perjalanan panjang itu, dan menggunakannya sebagai bekal untuk melangkah lebih jauh.
Aku tidak sedang lari dari kenyamanan. Aku sedang menuju panggilan. Dan sejak saat itu, meskipun jalan ini tidak mudah, hatiku justru menjadi lebih tenang.
Karena aku tahu, aku tidak berjalan sendiri.







