Nurkidin
Lelaki tua duduk disudut taman sembari menghisap cerutunya
Pikirannya melayang jauh mengikuti kemana perginya asap
Tatapan matanya hanya sesekali berkedip
Sampai batas asap hilang dari pandangannya
Sesekali dia menarik nafas dalam-dalam
Sambil memejamkan mata
Sembari mengernyitkan dahi yang sudah nampak berkeriput
Diam sejenak, membisu dalam kenangan
Kudapan singkong rebus, terasa hambar
Kopi hitam yang selalu setia menemani, tak bisa menghangatkan rasa
Burung perkutut pun tak kuasa mengeluarkan kidungnya
Ada yang hilang pagi ini
Masih dengan cerutunya
Lelaki tua itu mencoba merangkai kata-kata yang tercecer
Yang selama ini dia biarkan jatuh berserakan
Hancur berkeping-keping tak berbekas
Mencoba membuka kembali kenangan masa lalu
Bayangan hitam yang selalu menghantui, dia singkirkan
Tanpa sungkan dia pungut kembali serpihan kata yang berantakan
Menyusun kembali kata yang telah hilang
Masih dengan cerutunya
Bangkit melawan dari segala keterpurukan
Tiada kata akhir dalam kehidupan
Menyusun kembali kata dalam suatu puzzle
Masa tua awal dari pengabdian di dunia lain






